5 Tradisi Cantik Paling Ekstrem di Dunia

|| || || Leave a komentar

TOPLESS -Beauty is pain! Cantik itu menyakitkan. Pepatah ini cukup mengena di hati para wanita. Sebagian besar wanita percaya bahwa menjadi cantik itu sakit. Bahkan, beberapa suku di dunia telah lama menerapkan ritual kecantikan yang ekstrem dan tak biasa. Kira-kira, apa saja yang mereka lakukan untuk tampil cantik? Berikut adalah lima tradisi cantik paling ekstrem di dunia, seperti dilansir Roadtickle.com.

1. Mengikat kaki


Dalam tradisi China, wanita diwajibkan untuk mengikat kaki mereka. Ritual kecantikan ini mulai dilakukan pada akhir abad ke-19. Sebagian wanita percaya bahwa kaki mungil terlihat lebih indah dan membuat gerakan mereka tampak anggun dan feminin. Namun, kaum reformis segera menentang praktek menyeramkan tersebut sebelum memasuki awal abad ke-20.

2. Cincin leher


Para wanita dari suku Padaung (Kayan Lahwi) mulai memakai cincin leher sejak usia dua tahun. Tradisi ini masih mereka lakukan sampai saat ini. Jumlah cincin akan terus bertambah seiring bertambahnya usia. Berat kumparan lambat laun menekan tulang belikat dan menciptakan kesan leher yang panjang.

3. Melebarkan bibir dan telinga


Beberapa suku di sekitar Sungai Amazon mempunyai tradisi cantik yang tak biasa. Para wanita akan memasang ornamen kayu untuk melebarkan bibir atau telinga mereka. Itu akan mereka lakukan selama upacara dan acara-acara khusus.

4. Korset


Pinggul ramping memiliki kesan seksi dan feminin bagi wanita. Korset menjadi salah satu cara untuk menciptakan kesan itu di pinggul wanita. Dulu, pemakaian korset sangatlah ekstrem dan menyakitkan. Para wanita berusaha mengurangi ukuran pinggang mereka dengan memakai korset super ketat. Alhasil, pinggang dan perut jadi tampak sangat ramping dan sempit.

5. Membebat kepala


Modifikasi struktur fisik, terutama tengkorak, sangat populer di masa kuno. Tradisi ini biasa dilakukan oleh suku Mesir kuno, Aborigin, Hun, dan Maya. Proses pemanjangan tengkorak mulai dilakukan pada bayi yang berusia enam bulan.

Semua peradaban memiliki tradisi dan kepercayaan sendiri. Aneh atau tidaknya sebuah budaya, sudah sepatutnya kita tetap menghormatinya. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.